|
Mahasiswa Unisla kiranya patut berbangga karena anak Lamongan yang kuliah di UNISLA rupanya tidak pernah kering akan prestasi. Hal ini terbukti setelah Mahasiswa Fakultas Peternakan berhasil menjadi runer up di Wilayah C (Indonesia Timur) dan berhak maju dalam Kompetisi Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa Tingkat Nasional mewakili Indonesia Timur, kini 2 orang mahasiswa UNISLA yang tergabung dalam UKM PSHT UNISLA mampu menyabet medali Perak dan Perunggu dalam KEJUARAAN PENCAK SILAT KRIDA NASIONAL antar perti Se-Indonesia di Universitas Diponegoro Semarang pada tanggal.24-29 Agustus 2008 yang lalu Dalam Kejurnas kali ini tim UNISLA yang terdiri dari M.CHOIRI mahasiswa Fakultas Hukum yang berlaga di Kelas B harus mengakui kehandalan Tim Universitas Negeri Malang di perempat final, HAMBALI mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Informatika yang berlaga di Kelas C juga harus mengakui atlit UNSOED, Purwokerto di Semi Final, sedangkan ZAINI HADI SISWANTO mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Informatika di babak Final Kelas F terpaksa dikalahkan oleh atlit Universitas Negeri Malang
Pada saat keberangkatannya ke Kejurnas ini Tim UNISLA dengan pelatih Sugianto (Ketua UKM PSHT Unisla mahasiswa Fakultas Hukum Smt.VIII dan Abdul Rokim (mahasiswa Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri), serta Manajer Drs. R.Chusnu Yuli, MPd (Pudek I FKIP) dilepas Pembantu Rektor III Unisla, Ir. Nuil Badriyah, MM, dengan suasana haru, karena pada pemberangkatan kali ini hanya dibekali do'a tanpa ada bekal finansial yang memadahi. Semua ini disebabkan oleh keterbatasan yang ada di UNISLA sehingga tekad dan kemauan yang tinggi dari mahasiswa ini belum bisa diimbangi dengan penyediaan fasilitas dan dana yang cukup, karena memang UNISLA yang baru menginjak umur yang ke 9 tahun hari-hari ini sedang membenahi sarana-prasarana berupa fisik bangunan dan peralatan pendukung proses belajar mengajar. Untuk itu Purek III ats nama Jajaran Pimpinan Unisla minta maaf yang sebesar-besarnya dan berjanji akan mengupayakan bea siswa kepada mahasiswa yang berprestasi. Namun demikian Unisla berharap agar Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam hal ini KONI memperhatikan anak-anak Lamongan asli yang sudah jelas-jelas mempunyai prestasi ini untuk dibina dan didukung atau paling tidak mendapatkan penghargaan dari Bupati, sedangkan orang-orang asing yang merumput di Lamongan saja mendapatkan gaji yang sangat tinggi dari uang rakyat Lamongan, masak memberikan penghargaan untuk anak kandung tidak bisa. Mengapa ? ? ? Karena hingga saat berita yang terlambat ini diturunkan (fasilitas humas sedang ngadat 3 minggu) rupanya Pak Masfuk belum/ tidak mendengar prestasi ini dan sehingga diberbagai kesempatan beliau hanya bercerita tentang keberhasilan Gulat (Humas Unisla) |