|
Membangun Indonesia, Inspirasi dari Jepang Kiting Damalis (14/08/2008 - 15:31 WIB) (email untuk
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
) Jurnalnet.com (Jakarta), Anni Iwasaki (55 tahun) wanita Indonesia bersuamikan orang Jepang merupakan salah satu penulis legendaris yang sejak kepindahannya ke Tokyo tahun 1974, gencar menulis tentang kemajuan Jepang dikirim langsung dari Tokyo. Sementara hasil kerja politisi banyak dicemooh 'turbulensi rejeksi' masyarakat mencuatkan kekuatiran Golput (golongan putih) bakal memenangkan kampanye legislatif dan capres-cawapres pemilu tahun 2009-2014. Anni justru berpendapat Parpol adalah tempat yang tepat mewujudkan cita-cita Kebangsaan. Sejak tahun 2002 Anni PP Tokyo-Jakarta, kini di Jakarta dia memegang jabatan politik sebagai Fungsionaris Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar (DPP PG) Dapil II DKI sekaligus duduk di Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilu PG 09 (Bappilu 09 PG) sebagai Wakil Ketua Hubungan Antar Lembaga dan Pengendalian Keamanan. Dibawah ini rangkuman wawancara diangkat dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh umum ke redaksi Jurnalnet.com tentang sepak terjang Anni Iwasaki. Berikut petikannya:
Jurnalnet.com (T): apa yang membuat anda demikian gigih memperjuangkan pembangunan Indonesia inspirasi dari Jepang? Anni Iwasaki (J): Pertama adalah faktor alam jika hidup sendiri berhasil, timbul keinginan berbagi pengalaman kepada orang-orang yang berkeinginan berhasil dalam hidupnya. Kedua, keberhasilan pembangunan manusia Jepang adalah kunci keberhasilan Jepang meningkatkan kualitas hidup rakyat Jepang berturut-turut mencapai predikat bangsa tersejahtera dan memiliki harapan hidup terpanjang di dunia versi PBB. Saya tahu persis tentang proses itu karena saya hidup di dalamnya dan saya berhasil pula membangun diri. Pembangunan manusia Jepang sangat komprehensif dan intens dari dalam keluarga-keluarga sedang di Indonesia pembangunan manusia amanah pembukaan UUD 1945 implementasinya sebatas pelatihan kerja untuk menjadi tenaga kerja. Artinya, di Jepang manusia dikembangkan sifat-sifat baiknya di Indonesia manusia baru diapresiasi ototnya. Kini kualitas manusia Jepang perkapita bisa menghasilkan antara US$35-40 ribu, 'otot' Indonesia berpendapatan perkapita hanya sekitar US$2-3 ribu. Di Tokyo sebelum anak pertama saya lahir tahun 1976 saya langsung tahu jika arah pembangunan Indonesia tidak kedepan dan Jepang akan terus leading. Tahun 1974 nilai 1 yen sama dengan 1.3 rupiah, tahun ini usia RI ke 63 tahun dan sudah 50 thn menjalin hubungan dengan Jepang, kurs 1 yen adalah sekitar 85 rupiah. Ketiga, dalam forum-forum saya mengupas keberhasilan rakyat Jepang, para hadirin bergembira merasa mendapatkan semangat dan harapan baru, bahwa, hidup sejahtera itu betul-betul ada dan bisa dicapai. Hampir setiap bulan saya mendapat undangan diskusi, berbicara di seminar dan ceramah di pengajian, semua itu menambah pengetahuan dan semangat saya. Keempat, Jepang sedang mencari teman mengembangkan pembangunan masyarakat sipil ke luar Jepang. Peran serta Indonesia era reformasi dari militerisme ke civilian sangat menentukan keberhasilan itu. Dengan demikian anggaran militer dunia yang mencapai US$1 trilyun pertahun, bisa dialihkan kepada pembangunan dan pengembangan masyarakat sipil dunia. (T): Kesulitan apa yang anda jumpai koq sampai sekarang belum berhasil? (J) : Awalnya saya tidak berpikir sampai memperjuangkan sistim. Sesuai dengan kondisi saya sebagai ibu rumah tangga Jepang dengan tiga anak saat itu masih kecil dan saya fokus kepada tugas-tugas membesarkan anak-anak. Melalui tulisan-tulisan saya bermaksud memberikan informasi ke Indonesia tentang banyak hal positip di Jepang yang bisa dijadikan inspirasi. Sementara kualitas manusia Indonesia dari tahun ke tahun semakin buruk jumlah kelahiran bertambah besar, lalu pemerintahan Soeharto jatuh. Generasi sebelum kemerdekaan dan memiliki pengalaman dan hubungan baik dengan Jepang sudah banyak yang meninggal yang masih hidup sudah sangat tua. Generasi baru banyak yang menuntut ilmu ke Jepang, ternyata hanya untuk bekal bisa bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang . Kemajuan Jepang hanya dimaknai sebatas jika bekerja di perusahaan Jepang bisa dapat gaji besar. Sementara lulusan AS dan Eropa banyak mendominasi lahan decision maker di partai-partai politik, posisi penting di pemerintahan dan lapangan usaha. Untuk kelas dibawah golongan menengah umumnya pengetahuannya tentang Jepang tetap seperti ketika saya masih sekolah dulu Jepang pra PD II sebagai penjahat perang, penjajah, sake, geisha, samurai, jugunhianfu, romusha, bunuh diri. Yang baru hanyalah tentang filem kartun Jepang. Menyadari semua ini saya tidak menganggap kesulitan yang bisa segera saya kerjakan langsung saya kerjakan. (T) : Sebagai politisi apakah anda melihat ada hambatan hubungan Indonesia-Jepang setelah reformasi 1999? (J) : Wah hambatannya besar sekali. Generasi yang lahir paska kemerdekaan dan duduk di pemerintahan sejak jatuhnya orde baru tahun 1999 dari level presiden, para menteri, birokrat, civitas akademik hingga ke para politisi tidak banyak tahu tentang Jepang kecuali mobil Jepang bagus. Ketidak tahun ini menghambat komunikasi kedua belah pihak lalu merembet ke hal-hal lain akibatnya kepada investasi Jepang ke Indonesia yang makin menyusut. Sementara pemerintah Indonesia bingung apa sebabnya koq investasi dari Jepang belum datang juga. Hal seperti ini saya punya solusinya. (T): Apakah konsep anda itu sudah di daulat oleh PG? (J) : Ha..haa saya kan PG dengan NPAPG 09050702558, anytime anyplace konsep saya siap mewujudkan janji-janji kampanye PG di kemenangan 2009-2014. (J) : Mengapa anda tidak mencalonkan diri menjadi calon legislatif(caleg) tahun depan? (T): Wah...saya tidak punya uang untuk itu. Meskipun MJK menekankan kampanye harus dilakukan secara rasional dan hindari politik uang namun dalam masa transisi pemberantasan korupsi tidak tegas, kemiskinan dan kriminalitas tambah banyak, suara berarti uang. Masih banyak jalur politik bisa saya tempuh untuk mensukseskan pembangunan Indonesia dengan inspirasi dari Jepang. (T) : Sepertinya untuk berhasil anda menghadapi tantangan yang cukup berat? (J) : O begitu ya. Saya melakukan sinergi dengan banyak pihak. Belum 2 tahun di PG saya mendapatkan kepercayaan lumayan besar. Meskipun teman-teman pers banyak yang sudah tua dan tidak eksis lagi, saya coba membuka jaringan baru. Kondisi saya masih fit untuk terus sosialisasi dan menjadi jurkam (juru kampanye) PG. Saya tetap optimis tahun 2009-2014 PG pasti menang di parlemen minimal 30 persen, kursi RI-1 dan konsep saya membangun Indonesia inspirasi dari Jepang menjadi Program Pembangunan Nasional NKRI jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang dan berkesinambungan. |