Home
Thursday 09 February 2012 06:36:20 PM
;
Resensi Buku : “30 Perempuan Pilihan Wanita Penulis Indonesia”
Friday, 07 May 2010

Resensi Buku : “30 Perempuan Pilihan  Wanita Penulis Indonesia”

Oleh: DR Hc Anni Iwasaki.

Presiden PUSJUKI.

 

“Ada kekuatan besar yang menggerakkan para perempuan ini, bukan uang, bukan ambisi, tetapi keresahan dan kegelisahan…,” demikian  Meilani Budianta memberikan pengantar buku, Suara Perempuan: Tiga Puluh Perempuan Pilihan Wanita Penulis Indonesia –WPI- . Buku ini dilaunching pada tanggal 16 April hari Jum’at lalu di TIM di Jakarta. Ketika 30 perempuan diseleksi oleh WPI, sangat mungkin sosok Sri Mulyani Agustus 2008 menjadi  pilihan majalah Forbes, wanita terkuat ke 23. Begitu juga Miranda Gultom sangat populer ketika menjabat Deputi BI. Namun, sayang,  perjuangan reformasi yang sedang berlangsung  membuat kedua wanita baja yang perlu diperhitungkan itu menjadi sosok yang kontroversial.
Tiga puluh perempuan terpilih adalah: Anna Rochana Rohim, Anni Iwasaki, Ariani AM, Dewi Motik Pramono, Harkristuti Harkrisnowo: Perbedaan Untuk Menyatukan. Hasnah Siregar: Menolong Pasien Tanpa Pamrih. Jais Hadiana Dargawijaya: Art Dealer. Kiswanti: Berjuang Mencerdaskan Anak Miskin. Linda Agum Gumelar: Ketika Kanker Hanya Sebuah Kata. Lulu Lugiyati: Srikandi Udara.  Maria Hartiningsih: Komitmen Komitmen Komitmen. Martha Tilaar: Keberhasilan Entrepreneur Wanita. Meutia Hatta: Sejarah yang Berputar. Mufidah Jusuf Kalla : Cinta, Aktualisasi Diri, Kerajinan Indonesia, Anggrek, dan Pentingnya Membangun Karakter Anak.  Muji Rahayu: Guru di Kepulauan Seribu.  Nyi Rumiyati Ajang Mas: Dalang dan Wayang Perempuan. Ovie Eliana : Pramudi Bus.  Pratiwi Sudarmono: Perempuan Harus Keluar dari Tradisi Marginal.  Prita Kemal Gani: LSPR Menjadi Pusat Studi PR di Asia. Riris K. Toha-Sarumpaet: Guru Besar Sastra. Rosiana Silalahi: Menjadi Wartawan itu Panggilan Hati. Rumiah K: Perempuan Kapolda Pertama Indonesia. Siti Aminah: Bidan Kaum Terpinggir. Siti Istikharoh: Peduli Perjuangan Buruh. Suciwati Munir: Sendiri Menerjang Badai Kemunafikan. Susi Susanti: Sebut Saya Ibu Rumah Tangga. Sylviana Murni: Perbedaan bukan Untuk Membeda-bedakan. Titiek Puspa: Tebarkan Cinta Kasih dengan Ikhlas. Winny E. Hassan: Bankir Sukses dengan Bekal Ijazah SMA dan Yoyoh Yusroh: Ibu Ummahat yang Gigih.

 

Cara Memilih.

Dalam jumlah ribuan perempuan hebat di tanah air. Kriteria  pilihan berdasarkan apa? Ketua WPI  Yvonne De Fretes bilang, “tidak mengajukan kriteria tertentu, tetapi semata berdasarkan fakta yang dipadu dengan intuisi dan kemudian diolah dan diputuskan secara cerdas dalam kebersamaan tim penulis”.

 

WPI adalah yayasan nirlaba yang telah berusia 25 tahun sosok pendiri antara lain Alm. La Rose kolumnis pejuang peranan ibu rumah tangga yang sangat populer pada saat itu dan sejumlah penulis sekaligus sastrawati  señior diberbagai kota di Indonesia termasuk yang masih eksis seperti Titie Said.

 

Lalu siapa sajakah tim penulis WPI saat ini? Antara lain Ivonne, adalah kelahiran Singaraja, Bali. Selain menyandang status ibu rumah tangga dengan beberapa cucu, dia sudah belasan tahun malang melintang menjadi wartawati diberbagai media masa khususnya di majalah wanita yang marak terbit diawal tahun 1970-an. Empat besar majalah wanita: Kartini, Sarinah, Famili dan Pertiwi.

 

WPI adalah wadah para kolumnis, sastrawati sekaligus pembicara dari bermacam topik dari SDM hingga pengembangan kerohanian. ‘Veteran-veteran’ dari media wanita seperti Puti Lenggo, Free Hearty, Rita Sri Hastuti, Diah Hadaning dan sejumlah generasi yang lebih muda seperti Muthiah Alhasany, Pipit Senja, Ariany Isnamurti dan Fanny Jonathans Poyk. Sederet nama itu bukan hanya sekedar berjabat tangan melainkan hidup bersama para news maker perempuan sejak jaman orba hinggá saat ini.

 

Surprised dan Bimbang.

Ketika saya diberitahu bahwa saya terpilih dalam tiga puluh perempuan pilihan dan akan dilakukan wawancara. Saya sangat surprised sekaligus bimbang. Adakah anggauta WPI yang bisa menjamin bahwa pesan saya dapat tampil utuh seperti visi, misi dan program kerja ”khas saya” ? yang sering dianggap kontroversial.

 

Mbak Titi Said pernah memajang tulisan saya di sampul majalah Family tentang Restoran Jepang Menggeser Popularitas Rumah Makan Cina dan beberapa esei tentang keluarga tulisan saya.  Rita Sri Hastuti menampilkan gagasan saya sekaligus potret saya sehalaman penuh di majalah De Maestro tentang Pembangunan Generasi Muda Indonesia ketika khalayak sedang ramai membicarakan siapa-siapa yang akan menduduki kursi Kabinet Indonesia Bersatu (jilid 1) salah satunya yang masuk adalah Meutia Hatta.

 

Yvonne sependapat dengan saya bahwa ibu rumah tangga sebaiknya, ”bekerja but not for living”.

 

Kedekatan saya dengan Puti Lenggo yang bertugas mewawancarai saya melalui email Jakarta-Tokyo hingga puluhan halaman bahkan dalam carut-marut merosotnya moralitas berbangsa ketiga putrinya turut bergerak menyetujui ide saya. Yaitu tentang peranan ibu profesional adalah solusi menuju Indonesia Raya. Hati saya lega luar biasa ketika pertama kali membuka buku itu.  Puti Lenggo memberikan judul wawancara ”Wanita Sebagai Agen Kemajuan Indonesia” di nomer urut 2. 

 

Kemandirian sikap WPI mengisi reformasi bisa terlihat dalam peletakan nama perempuan terpilih berdasarkan abjad (meskipun tidak ada keterangan tentang itu). Tapi didepannya dituliskan nomer urut. Pada masa lalu incumbent seperti Linda Agung Gumelar, kini Menneg Peranan Perempuan pasti tidak akan berada di nomer 9. Begitu juga Dewi Motik Pramono si Putri Ayu Dunia Bisnis sekaligus Ketua Umum Kowani pasti masuk tiga besar. Bahkan menurut Melani Budianta strategi survei semacam yang dilakukan oleh WPI ini pernah membawa Arswendo Atmowiloto ke penjara orde baru!

 

Tiga Besar.

Seorang Anna Rochana Rohim diurutan nomer satu, boleh jadi tidak banyak yang mengenal  kecuali disebutkan dia adalah ibu dari Ary Ginanjar. Dan yang paling menarik lagi WPI yang memiliki akses cukup besar namun dalam launching buku 30 Perempuan Pilihan,  tidak terpampang logo sponsor. Berarti WPI tidak pula menerima pesanan sponsor.

 

Pentingnya pembangunan keluarga sebagai sendi dasar masyarakat rupanya tetap membara dalam perjuangan sebagian besar para wanita yang tergabung dalam WPI sejak 25 tahun lalu. Pengakuan Anna Rochana Rohim (68) tampak mewakili kegelisahan dan keresahan kehidupan kaum wanita khususnya kaum ibu yang mesti berperan ganda pada saat itu. Antara keharmonisan berkeluarga dan masyarakat yang membutuhkan keahliannya, boleh jadi akibat minimnya tenaga ahli sedangkan investor layaknya air bah membanjiri Indonesia ketika itu. 

 

“Memiliki keluarga bahagia, dengan suami yang saleh, setia dan anak-anak yang cerdas, pintar mengaji, dan rajin shalat serta hormat kepada orangtua mereka merupakan impian setiap perempuan. Tetapi, tidak banyak yang berhasil mewujudkannya ke dalam kenyataan. Bahkan ketika mimpi menjadi nyata, Kadang mereka sendiri yang kemudian memberantakkannya”. Kata Anna Rochana Rohim (68 )tentang suka-duka peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus  pekerja masyarakat dalam judul ”Perlu Keseimbangan Kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual”.

 

Anna pun bercerita sekitar tahun 1965an sebagai ibu rumah tangga dan  Kepala Puskesmas dia harus mencari obat sendiri bahkan membagi uang yang tidak banyak dikantongnya untuk kehidupan keluarganya dan untuk masyarakat yang membutuhkan obat dikala pemerintah tidak memberikan bantuan obat-obatan. Dia mengambil berbagai kursus kilat, agar segera dapat turut membenahi kehidupan keluarga-keluarga dengan memberikan ketrampilan kepada para istri yang bekerja penuh rutinitas. Pagi-pagi membereskan anak, memandikan, memberi makan, dan menyiapkan segala tetek-bengek rumah. Lalu, mereka bekerja membersihkan kaki kambing, mengikisnya dan mengirimnya ke penjual sop kambing di jalan Kudus. Para orang tua segera menikahkan gadisnya dengan perhitungan jika mereka bercerai bisa disuruh bekerja di Tanjung Pinang sebagai wanita penghibur.

 

Suatu saat Anna dan suami menghadapi pilihan mana yang mesti didahulukan. Anak-anaknya yang masih membutuhkan perhatian atau terus memainkan peran ganda memperjuangkan kehidupan keluarga-keluarga miskin disekitar tempatnya tinggal? Dengan berat hati suami-istri ini memilih anak-anak mereka.  

 

 Anni Iwasaki (57), ”Wanita Sebagai Agen Kemajuan Bangsa”.

Sejak tahun 1985, sosok bernama Anni Iwasaki, lewat tulisan-tulisannya dikirimkan langsung dari tempat tinggalnya di Tokyo, Jepang berseru kepada wanita-wanita di Indonesia agar ’pulang’ ke rumah untuk melaksanakan hak-hak politik mereka, mengaktualisasikan diri sebagai ibu manusia: mengasuh, memelihara dan mendidik anak-anak sejak dini. Mengasuh berarti memenuhi fungsi psikologis, yakni menciptakan ikatan jiwa dengan anak dalam pola pengasuhan. Memelihara merupakan tanggung jawab struktural, hak untuk memelihara anak-anak. Dan, mendidik merupakan tanggung jawab kultural. Seorang ibu memiliki hak memberikan pendidikan sejak dini kepada anaknya.

 

Menurut Anni kepada Puti Lenggo , ” menikah dengan orang asing bukan berarti aku menjadi  perempuan kaya yang terbebas dari segala macam pekerjaan rumah tangga. Justru sebaliknya, aku melakukan semua pekerjaan itu tanpa bantuan orang lain. Melalui kedua tangan aku,  mengasuh, memelihara dan mendidik anak-anak sejak dini. Hal ini juga dilakukan oleh para ibu rumah tangga di Jepang.” Kini Anni dan suaminya merasa telah menjadi orangtua yang berhasil dengan sangat memuaskan. Kendati ibunya bukan wanita Jepang, Rio, Yudo dan Rido tumbuh kompetitif dengan anak-anak Jepang dalam etika-intelektual, sehat pisik-psikis-sosial dan spiritual. Anni merasa mantap apabila dia bisa, pasti seluruh ibu Indonesia juga bisa.

 

Tahun 2002 sejak si bungsu Rido wisuda hingga saat ini Anni pp Tokyo-Jakarta memperjuangkan keyakinannya membangun bangsa melalui yayasan nirlaba yang dibangun bersama rekan-rekannya. Dia telah melanglang ke empat-puluhan negara dan terbiasa melihat segala sesuatu dari sisi positif sehingga tak sedikit pun memiliki keraguan melontarkan gagasan mendunia untuk tanah airnya,  ”Meskipun demikian, aku tetap tak berani berharap kaum ibu Indonesia akan berbondong-bondong berperan serta. Karena aku menyadari bahwa kondisi para ibu di Indonesia secara keseluruhan tidak sesehat kondisi diriku dan kondisi umumnya ibu-ibu di Jepang”,  tegas Anni yang kesehariannya di Jakarta terus menerus menyosialisasikan program pembangunan masyarakat Indonesia ilmiah teknologi dan industri perubahan iklim ke departemen pemerintah, organisasi profesional, organisasi massa dan partai politik sekaligus mencari dukungan. 

 

Ariani AM (65), ”Perkasa dalam Satu Warna”. Di sebuah forum yang diselenggarakan oleh Kowani, duduk Ariani AM. Sosok ini adalah seorang perempuan bersahaja yang bersuara lantang. Kecerdasan, ketegasan dan ketegarannya menapaki hidup tampak jelas dari caranya mengungkap permasalahan yang dihadapi komunitasnya. Dia menatap lawan bicaranya dengan serius, lalu ketika ada yang menyela dan bertanya, dengan cepat kepalanya memutar ke arah orang tersebut. Tidak ada yang berbeda pada dirinya. Ketika pertemuan selesai, dia pun dengan sigap berdiri. Ketika dia hampir menabrak kursi, seorang rekannya dengan cepat membimbing tangannya. Dia berbisik, lalu rekannya menyodorkan buku yang diminta. Saat dia berusaha mengambil buku itu, baru peserta lain tersadar bahwa Ariani, perempuan tegar ini adalah perempuan yang matanya tidak lagi berfungsi. Dia menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia (HWPCI)

 

Sarjana lulusan Universitas Gajah Mada ini mengaku kepada Free Hearty, ” Satu hal yang membanggakan, meski kepadaku dibacakan buku-buku pelajaran, tidak jarang hanya aku yang lulus mata kuliah itu. Bukan karena aku lebih pintar dan lebih istimewa dari mereka, tetapi karena kekuranganku dalam penglihatan, membuat aku lebih fokus dan lebih kensentrasi dalam menyimak. Mata mereka yang awas membuat mereka juga lebih banyak godaan dan tidak begitu serius membaca. Beberapa menit menjelang ujian pun mereka masih membaca. Aku tidak mungkin melakukan itu.

 

Ariani AM menikah saat masih kuliah baginya keluarga adalah utama meskipun harus memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan kuliahnya. ” Dari perkawinanku, aku mendapatkan tiga anak yang sangat luar biasa. Anak pertama Sofia Ambarini, sarjana komputer dan seorang pengusaha yang mandiri. Yang kedua Fidia Amalia, sarjana ekonomi dan bergerak di bidang advertising kini menetap dengan suaminya di Kanada dan Rahmadewi Adbary, sarjana psikologi, sangat kreatif. Aku sangat lega berhasil mengantar mereka ke dalam kehidupan yang bertanggung jawab mengikuti pola ibuku dalam mendidik anak-anakku. ” Ketika aku dihadapkan kepada permasalahan rumah tanggaku yaitu aku dikhianati, komitmen perkawinan dilanggar, maka aku berpikir daripada sepanjang hidup aku berperang dan berjuang untuk diri sendiri mengatasi konflik yang pasti muncul, lebih baik energiku kugunakan untuk memperjuangkan nasib manusia lain sesama tunanetra yang mengalami diskriminasi berlapis.

 

Sejak Ariani (20) masih menderita low vision, dia aktip berorganisasi turut mendirikan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Secara internasional sudah begitu luas akses bagi penyandang cacat. Barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa ketika komputer dibuat, para ahli itu juga membuatkan untuk para tunanetra. Begitu juga handphone. ”Tapi mengapa bangsaku masih enggan memberi kemudahan bagi kami? Karena itu, kami tak kenal lelah berjuang demi mendapatkan kemudahan itu. Alhamdulillah, beberapa kemajuan telah kami capai”.

 

Perlu diBaca Oleh Generasi Muda.

Saya kira buku ini bagus dibaca oleh generasi muda selain bisa memberikan informasi kondisi sosial budaya yang melatari sekaligus pengalaman para perempuan ini mampu bersikap tetap tegar, melalui kesulitan demi kesulitan dan berhasil. Pada pokoknya ”berjuang berjuang dan berjuang” adalah intisari dari isi buku Tiga Puluh Perempuan Pilihan WPI menaklukkan keresahan dan kegelisahan. Dan sangat mungkin pula pengalaman para perempuan dalam buku ini dapat menjadi pijakan strategis. Membangun kehidupan para perempuan Indonesia oleh pemerintah  lebih baik dan lebih manusiawi. Penerbit buku Zikrul Hakim (Anggota IKAPI) 300 halaman, ukuran buku 15x23 cm. Alamat penerbit Jl Waru No 20 B Rawamangun Jakarta Timur 13220 telp (021) 475 4428, 475 2434. AI/Jkt 4 Mei 2010.

 

 
< Sebelumnya   Berikutnya >